LALAI ATAU MUSIBAH..?
Semalam saya menonton berita Reportase Malam yang disiarkan di Trans TV, dan ada satu berita yang menurut saya sangat menarik meskipun itu bukanlah berita utama, tetapi bagi diri saya yang memiliki profesi sebagai seorang dokter, inilah berita utama bagi saya.
Berita tersebut adalah tentang terpotongnya sebagian dari glan penis seorang anak akibat disunat pada salah suatu acara sunatan massal yang diadakan oleh salah satu perusahaan rokok yang bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat.
Dalam berita tersebut diutarakan bahwa hal tersebut baru diketahui oleh orang tua korban setelah beberapa waktu setelah anak tersebut disunat tetapi pendarahan belum berhenti, oleh dokter yang menyunat anak tersebut diberi tahu bahwa hal tersebut bukan hal yang mengkhawatirkan, pendarahan tersebut berasal dari luka bekas potongan dan jahitan, dan akan berhenti beberapa saat lagi. Namun sesampai di rumah, pendarahan tersebut tidak berhenti, lalu orang tua anak tersebut membawa anaknya ke rumah sakit umum daerah setempat untuk memeriksakan pendarahan tersebut.
Di rumah sakit tersebut barulah diketahui bahwa pendarahan tersebut berasal dari glan penis yang terpotong sebagian. Dan akhirnya orang tua si korban mengadukan hal tersebut kepada polisi yang lalu disikapi oleh polisi dengan memanggil beberapa pihak yang diduga terkait dengan hal tersebut yang mengakibatkan kecacatan seumur hidup dengan tuduhan kelalaian medik.
Kesimpulan saya terhadap kejadian diatas :
Hal tersebut bukanlah musibah tapi kelalaian dan kecerobohan dokter yang bertugas sebagai operator, apapun alasannya.
Pendapat saya :
Sirkumsisi memanglah hanya merupaka bedah minor, tetapi sering saya alami, beberapa dokter muda sangat menganggap hal tersebut sepele, sehingga banyak sekali kecerobohan terjadi. Dan yang sanagt saya sayangkan, jika benar hal-hal yg diberitakan tersebut benar-benar terjadi, maka selain terjadi kecerobohan dalam melakukan tindakan medik, dokter tersebut juga melakukan penipuan terhadap pasiennya. Sangat besar kemungkinan, dokter tersebut ingin menyelamatkan dirinya sendiri tanpa mengingat Sumpah dokter. Sungguh sangat memalukan dan sangat tidak pantas pribadi tersebut berprofesi sebagai seorang dokter.
Dan sirkumsisi yang bagi pemeluk agama Islam yang notabene agama mayoritas di Indonesia, adalah suatu kewajiban dan suatu hal yang membahagiakan, tetapi kini menajdi suatu hal yang menyedihkan. Saya tak dapat membayangkan bagaimana perasaan anak tersebut 10 – 15 tahun lagi, saat dia mulai mengerti akan fungsi-fungsi dari sebuah penis, meski saat ini hanya anak tersebut bisa merintih kesakitan saja, tanpa memikirkan masa depannya.
Saya pribadi, oleh teman-teman senior maupun adik-adik junior dikenal sangat galak, mereka tidak akan berani menjadi asisten saya bila menurut mereka dirinya belum menguasai teori dasar yang menyangkut sirkumsisi atau tindakan medis apapun, bahkan ada pula yang menilai saya sebagai pribadi yang kasar dan suka menghambat proses pengajaran bagi diri mereka yang ingin menjadi seorang operator meski telah bertahun-tahun menjadi asisten. Mereka akan mencari operator senior yang lebih mudah memberikan kesempatan menjadikan mereka operator.
Menurut saya, sistem ingin cepat segera menjadi operator & memberikan kesempatan atau menaikkan status teman-teman sejawat yang ingin menjadi operator bukanlah dari berapa lama waktu telah menjadi asisten atau masalah senioritas dan junioritas tetapi lebih kepada kemahiran serta yang paling penting adalah rasa tanggung jawab terhadap profesi dan pasien kita.
Hal-hal inilah yang sering dilupakan oleh teman-teman senior yang telah menjadi operator ataupun yang masih menjadi asisten dan ingin menjadi operator, sering kali hanya dengan berdasarkan faktor kedekatan, rasa rasa kasihan dan alasan-alasan lainnya yang tidak masuk akal.
Sering saya diminta untuk memberikan pelatihan sirkumsisi ataupun saat sedang membimbing adik-adik junior, dan pada satu kesempatan pasti akan saya sampaikan,
“sirkumsisi itu seharusnya tidak termasuk bedah minor, tetapi bedah mayor, karena meski barang yang dikerjakan realtif kecil dan tekniknya mudah, tetapi barang tersebut merupakan modal hidup dan berlaku seumur hidup, jika terjadi kegagalan, banyak-banyaklah berdoa dan bertobat, semoga pasien kita tersebut tidak memberikan sumpah serapah kepada hidup kita, seumur hidup kita dan seumur hidupnya!”
Memang, hal yang tersulit adalah kemampuan menilai diri sendiri.
Saya pribadi dalam menjalankan profesi kedokteran berprinsip,
“perlakukanlah seluruh pasien-pasien kita sebagaimana dirimu ingin diperlakukan jika kita menjadi seorang pasien, berikanlah yang terbaik dari yang kita miliki dan tidak boleh ada satu kesalahan pun dari setiap tindakan kita, baik disengaja ataupun tidak disengaja terhadap pasien kita terkecuali masalah nasib dan takdir”
Dan saya sangat berkeyakinan bahwa prinsip saya akan berjalan dengan baik bila kita:
- Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
- Jujur, ikhlas dan sepenuh hati
- Disiplin
Semoga berguna bagi bagi teman-teman sejawat..
© 2009, Alloen Endonesia. All Rights Reserved.
Related Notes:
Unique visitors to post: 0![The Unofficial The Land Rover Series & fam’s Photo Blog Photo Land[y]](http://i257.photobucket.com/albums/hh209/KUSUMADEWA/PhotoLANDy.jpg)


Recent Comments