Home > Intermezzo > PAPA, maafkan aku..

PAPA, maafkan aku..

Di sebuah negara bagian di Amerika, di daerah pedesaan, hiduplah sebuah keluarga yang hanya tinggal seorang ayah dan putri tunggalnya.
Ibunya meninggal saat melahirkan putri semata wayangnya ini, sebut saja namanya Michelle.
Papanya sangat sayang dengan putri tunggalnya ini, sampai bertekad akan membesarkannya sendiri dan tak akan menikah lagi.

Michelle kecil sangat suka menari, dia hobi sekali dengan satu hal ini, terutama balet.
Papanya sangat gembira, seringkali terbahak-bahak melihat putri kecilnya menari. Dia tidak menyangka kalau Michelle kecil yang baru berumur 2 tahun, sudah banyak bergaya dengan tariannya.
Papanya memutuskan untuk mendaftarkan Michelle kecil les balet sejak dini, karena dia merasa bahwa putrinya punya bakat dalam hal ini, ditambah lagi ada kemauan dari putrinya.

Tidak terasa Michelle bertambah dewasa, 5 tahun sudah usianya. Dan setiap sore, kini keluarganya punya kebiasaan baru. Mereka selalu menari bersama, berdansa sambil menyalakan musik. Jika satu hari saja Michelle tidak menari dengan papanya maka dia akan marah besar, papanya akan dibuat pusing dengan rengekan Michelle.
Dan kebiasaan itu berlanjut sampai Michelle remaja.

Kini putri kesayangan ayah sudah remaja.
Michelle sudah SMA, tapi hobinya dengan balet tidak pernah padam. Keinginannya menjadi penari profesional masih berkobar di dalam hati.
Satu hari dia katakan kepada papanya, ketika tengah menonton acara balet di televisi.

“Pa, mungkinkah Michelle akan menari seperti wanita itu? Ditonton oleh jutaan orang di televisi, menari di hadapan ribuan orang secara langsung?

“Pasti bisa anakku”, jawab papanya sambil memeluk putri kesayangannya.

Dia menatap Michelle dan membisikkan,

“Kamu bisa menjadi apapun yg kamu mau nak. Papa akan mendoakan dan mendukung kamu selalu, Papa yakin suatu hari kamu akan berada di tempat itu dan menari balet untuk jutaan orang. Kamu akan menarikan tarian terbaik yang pernah ada, dan Papa adalah orang pertama yg akan bersorak untukmu”.

Selesai berbicara, mereka berdansa bersama. Rumah itu terasa hangat, walau hanya 2 orang penghuninya, canda-tawa memenuhi ruangan rumah mereka.

Michelle memasuki masa pubernya.Dia jatuh cinta dengan kakak kelasnya di sekolah.
Memang dia takut dengan ayahnya, karena dengan jelas ayahnya melarang dia berpacaran sebelum lulus sekolah. Sehingga, dia hanya bisa memendam perasaan itu.

Tanpa terasa, Michelle semakin dewasa. Kini ia seorang mahasiswa.
Walau sudah di sekolah tinggi, papanya tetap menganggap bahwa Michelle adalah putri kecil kesayangannya, mereka masih tetap berdansa bersama stiap sore, tidak pernah satu hari pun absen. Kadang Michelle yang meminta, kadang papanya yang mengingatkan.

“Saatnya kita menari Pa”, pinta Michelle kepada papanya di satu sore.

Michelle kembali bertemu dengan pria yang ia suka di kampus.
Hari makin hari, mereka semakin dekat. Michelle memberanikan diri menyatakan perasaannya kepada papanya. Sang Papa sangat takut, kalau-kalau putrinya mengenal pria yang jahat, dia tidak mau kalau putrinya sampai tidak bahagia.

“Pa, David pria baik. Aku sudah mengenalnya sejak SMA, aku tahu dia. Papa mengijinkan kan kalau kami menjalin hubungan?”

Papanya terdiam berpikir, dia sadar putrinya sudah dewasa dan akan memiliki kehidupannya sendiri.

“Mungkin aku terlalu egois jika tidak mengijinkan Michelle berpacaran, memang dia sudah dewasa dan bukan putri mungil lagi”, pikir sang Ayah di dalam hati.

Akhirnya, luluh hati sang ayah dan Michelle pun bisa dengan lega menjalin hubungan dengan David, pria tampan dengan tubuh yg tegap.
Secara fisik, David pria sempurna di mata wanita. Tapi, tanpa sepengetahuan Michelle, David seorang pecandu alkohol dan judi. Dia pandai sekali menutupi hal itu dari Michelle.

Suatu hari, Michelle menceritakan impian terbesar dalam hidupnya kepada David, kekasihnya.

“Aku ingin menjadi penari terkenal di negeri ini, aku ingin menari di dalam gedung theater terbesar di negeri ini” , kata Michelle.

Lalu muncul ide dalam diri David, untuk membawa Michelle ke New York. Sebuah kota besar dengan penduduk yg padat dan memiliki kehidupan malam yang glamour.
David meyakinkan kalau dia memiliki kenalan disana, seorang koreografer balet yang cukup ternama. Dia mencoba meyakinkan Michelle, bahwa mimpi-mimpinya selama ini akan terkabul.
Michelle yg lugu, tidak berpikir macam-macam lagi. Yang dia tahu hanya satu hal, bahwa mimpinya akan segera tercapai. Michelle pun segera menceritakan hal ini kepada sang ayah tercinta.

Bersama David, Michelle meyakinkan sang Ayah bahwa di New York sana, mereka akan baik-baik saja. Karena David memiliki keluarga dan relasi yg cukup banyak.
Langsung saja tanpa basa-basi sang ayah menolak permintaan anaknya.

“Tidak! Papa tidak ijinkan Michelle pergi”, larang ayahnya dengan keras.

Hari itu Michelle menangis, dia marah, karena walau sudah merengek, tetap saja sang ayah melarangnya pergi.

“Papa tidak sayang sama Michelle!”, teriak Michelle
“Papa tahu, Michelle sudah menunggu hal ini selama bertahun-tahun! Papa tega!”

Hari itu Michelle ngambek seharian, dan tiba sore hari. Waktu dimana mereka menari bersama, sang ayah mengetuk pintu kamar michelle.

“Michelle buka pintunya, ini saatnya kita menari”, bujuk papanya dengan lembut

Michelle tidak memberi jawaban, dia masih kesal dengan sikap papanya.

“Bukakan pintunya, Papa mengijinkan kamu pergi..”, Belum papanya selesai bicara, Michelle langsung bangkit dari ranjangnya dan membukakan pintu.

“Benar Pa? Michelle boleh pergi? Papa baik deh, Michelle sayang sama Papa. Selamanya Michelle sayang Papa..”, sahut Michelle dengan gembira.

“Eitss.. Papa belum selesai bicara, Papa minta sesampai di kota tetap hubungi Papa. Jangan pernah satu hari pun tidak menelpon Papa!”

“Ok Pa, muach”, Sebuah cium kecil di pipi sang ayah dari putrinya yg tercinta.

Saat berpisah di terminal bus, ayahnya berbisik kepada Michelle

“Papa pasti merindukanmu sayang.. Juga merindukan waktu kita menari bersama.. Jika sudah berhasil, jangan lupa kembali ke rumah dan menari denganku..”, pesan ayahnya, sambil memberikan uang US$2000 sebagai pegangan putrinya.

Mereka pun menangis, menandai perpisahan mereka.
Tidak lupa sang ayah berpesan kepada David untuk menjaga putrinya baik-baik.

Sesampainya di New York, diluar dugaan..
Ternyata Michelle diajak David, tinggal di sebuah apartemen kumuh.

“Bukankah kau bilang kita akan tinggal di rumah bibi mu?”, tanya Michelle.

“Sudahlah, aku tidak enak jika menumpang di rumah mereka, kita tinggal disini saja. Biayanya juga tidak mahal”, rayu David.

Merasa bahwa semua yg dilakukan demi impian besarnya, Michelle tidak peduli walau harus agak menderita. Dia menghubungi ayahnya dan menceritakan kalau dia tinggal bersama bibinya David. Sang ayah selalu saja kuatir tentang keadaan putrinya dan tidak pernah bisa tenang.

2 minggu berlalu, ternyata David tidak juga membawa Michelle kepada koreografer terkenal yang katanya akan mengangkat karier Michelle di dunia tari.
Michelle hanya diam di kamar setiap hari, menunggu David yang katanya sedang mempersiapkan semua untuk keberhasilan Michelle.
Tapi kenyataannya, semua uang Michelle dipakainya untuk berjudi.
Parahnya, David terlilit hutang karena judi. Bahkan mafia judi tersebut mengancam akan membunuh David jika tidak melunasi dalam waktu dekat.
David ketakutan, dia berniat melarikan diri, mengajak Michellle kembali ke kampung halamannya.

“APA!! Jadi kamu membohongi aku selama ini!!!” Dengan emosi yg meledak Michelle berteriak.

“Maafkan aku Michelle, kini mereka hendak membunuhku, tolonglah aku..”, sahut David memelas.

Tiba waktunya, para mafia tersebut menangkap David. Tidak ada pilihan lain, daripada mati, David menawarkan Michelle untuk menari di klub malam milik mafia judi tersebut.

“Kekasihku pandai menari, biarlah dia bekerja untuk anda. Menari di klab malam anda, sebagai pelunasan hutangku..”, Tawar David.

“Gila, aku tidak mau menari di klub malam, aku tidak mau menari telanjang!!”, Michelle berteriak menolak.

“Kalau kau tidak bersedia, maka dalam hitungan detik, mayat kekasihmu ini akan tergeletak disini”, sahut sang mafia.

Akhirnya dengan terpaksa dan menangis, Michelle menjadi penari telanjang di klab malam.
Hancur hatinya, semua mimpinya buyar.

“Apa kata papa nanti, kalau dia tahu? Lebih baik aku mati kalau Papa tahu”, sesal Michelle dalam hati.

Bukan 1-2 malam dia harus menari, berhari-hari dia menari untuk melunasi hutang & menghidupi dirinya.
Dia malu, dan tak ingin kembali ke rumah karena merasa dirinya sangat kotor.
Setiap malam Michelle menangis, dia merindukan masa2 bersama sang Papa.
Dia menyesal karena sudah melawan larangan Papanya untuk pergi.

Sampai suatu malam, seorang kenalan Papanya melihat Michelle menari dan memastikan kalau itu Michelle. Michelle tidak tahu hal tersebut.
Sang ayah yang setiap hari menunggu kepulangan putri tercintanya yang tak kunjung datang juga, berpikir akan pergi ke New York mencari Michelle.
Dan kebetulan kenalannya menyampaikan bahwa Michelle kerja di klub malam sebagai penari telanjang.
Papanya terkejut mendengar hal itu, tapi dalam hatinya sang ayah menyangkal hal itu.

“Tidak mungkin Michelle melakukan itu, aku kenal anakku”, pikir papanya dalam hati.

Sang ayahpun sampai di New York.
Dia langsung mencari alamat sebuah klub yg menurut cerita kawannya bahwa anaknya menari disitu.
Sesampainya di klab tersebut, sang ayah masuk. Suasana tempatnya gelap, bau asap rokok dimana-mana. Dia mencari tempat duduk, jauh dari panggung penari. Dia mencari dan melihat apa benar Michelle ada disana.

Sang ayah terdiam, terpaku, tidak bisa berbicara apa-apa. Dia melihat Michelle kecilnya sedang menari dalam keadaan yang tidak seharusnya.
Air matanya menetes perlahan, betapa pedih hati sang ayah melihat putrinya seperti itu.

Dari kejauhan Michelle pun melihat dengan jelas kedatangan sang ayah, dia sangat kaget, jantungnya serasa berhenti sejenak.
Michelle ketakutan, gemetar seluruh tubuhnya memandang ayahnya. Dia berpikir,

“Papa pasti marah, dia pasti tidak akan memaafkan aku, aku pasti menyakiti hatinya.. aku anak tidak berbakti, aku anak durhaka, aku mau mati saja saat ini, Tuhan, ampuni aku..”

Sang ayah tidak berlama-lama, setelah memastikan bahwa benar putrinya ada disitu, dia memanggil pelayan, memasukkan uang US$2000 dan sebuah catatan kecil ke dalam amplop,

“Tolong berikan amplop ini untuk penari itu”, sang ayah menitipkan sesuatu untuk Michelle..

Seusai Michelle menari, di ruang ganti dia menangis dengan sangat tersedu-sedu. Mungkin dalam hidupnya, ini adalah saat yang paling menyakitkan dan menyedihkan.

“Papa, maafkan aku. Ini bukan kemauanku.. Aku sayang Papa..”, teriak Michelle berulang-ulang sambil menangis.

Tiba-tiba seorang pelayan masuk, menyampaikan amplop untuk Michelle.

“Ini untukmu, hari ini kau beruntung Michelle, seorang pria tua memberimu tip yg besar”, kata si pelayan.

Michelle tahu, amplop ini dari ayahnya. Dia membuka, ada uang US$2000 dan..
sebuah catatan kecil, dengan tulisan yg sungguh dia kenal.

“Semuanya sudah dimaafkan, semuanya sudah dilupakan..
Pulanglah anakku..
Menarilah denganku lagi..”

Papamu tercinta

Sehabis itu, Michelle terdiam.
Air matanya mengalir tidak terbendung..

“Terima kasih Papa, kau Papa terbaikku..”, ucap Michelle perlahan.

Michelle memutuskan pulang dan kembali bersama sang ayah.
Sejak hari itu mereka selalu bersama dan menari bersama.
Kasih sang ayah tidak berubah walau hal negatif menimpa putrinya..
Sang Ayah tetap mengasihi dan menyayanginya serta menerimanya kembali dengan gembira.

NB: semoga dapat diambil hikmahnya..

Cerita ini disadur dari sebuah forum di internet

© 2009, Alloen Endonesia. All Rights Reserved.

Share and Enjoy:
  • Print
  • PDF
  • RSS
  • email
  • Add to favorites
  • Facebook
  • MySpace
  • Technorati
  • Twitter

Related Notes:


Unique visitors to post: 11

Categories: Intermezzo Tags: ,
  1. November 24th, 2009 at 09:34 | #1

    Cerita yang menyentuh banget, dok…..Thx buat ceritanya…Walau gak semua sebahagia Michelle…
    Dokter pasti jadi papa yang baik buat anak2 dokter…..

  1. No trackbacks yet.